Postingan

Baronda Halteng: Menanam Rindu di Pulau Sayafi

Gambar
Dunia sedang menghadapi masa kerja yang sangat padat. Dengan alat bantu teknologi yang serba canggih, perkembangan zaman ini tentu bertujuan memudahkan manusia dan pekerjaannya. Tapi, jam kerja manusia, justru semakin padat. Waktu senggang untuk beristirahat, atau kesempatan menyambangi akhir pekan pun sangat sedikit. Di plaza kota, perkantoran, toko, juga semua tempat di mana kesibukan tampak mengapit kehidupan manusia, pemandangan semacam itu lazim kita saksikan. Pada kondisi inilah, Paul Lafargue berpendapat, keinginan manusia untuk berbondong-bondong mengunjungi pantai semakin menjadi-jadi. Tak dapat dipungkiri. Pantai adalah destinasi wisata ( seaside turism ) paling eksotik untuk dikunjungi wisatawan. Bicara tentang pantai, rasa-rasanya kurang lengkap, jika tidak menyebut sejumlah destinasi pantai di negara-negara maju. Kita mungkin telah mendengar, atau menyaksikannya di media sosial, kegembiraan para wisatawan di Pantai Playa Paraiso di Cuba. Pantai Cayo de Agua, Los Rogues N...

Amarah Lampu Merah - Cerpen

Gambar
Amarah Lampu Merah Cerpen: Rian Hidayat Husni Kembali Melankoli Batas-batas prasangka. Setan pun tak mampu menerobosnya. Dulu, kami tenggelam dalam gerhana cinta yang mengubah siklus hidup   menjadi satu, Cuaca serasa menyatu, iya, semuanya pada Bingkai satu Gambar Love. Tapi sesaat, bahkan dia tak mengingatku selintas-persen pun dalam termanya. Kenapa? Begitulah Sikapku dalam khayalan, dan realitasnya Aku sedang menunggu Angkot, Mau pulang. Halte Bus di kampus adalah tempat terbaik melihat wajah Wanita-wanita gemilang yang lelah berada di Ruang belajar. Mereka sungguh Berjihad dalam Pendidikan. Satu-satu wajah dan tubuh mereka melewati batas pintu Angkot dan bersandar. Manis yang melelahkan. Seandainya ada kekuatan Magic, mereka mungkin Menarik Rumah dan sekejap hilang berada di kamar tidur. Para Kusir memecah jalan dan lingkungan kampus dengan suara Eksposisi "Cewek, Nyong, Angkot-angkot..!" Dan melambaikan tangan. Persis tentara Belanda yang mengamankan wa...

Intelektual Lalu Lalang

Intelektual-2 Lalu-lalang: Lemahnya konsistensi belajar sebagai gerbang pendobrak? Seolah ini zaman paceklik, Kita juga lari Kau, pada mulamu adalah kewajaran Yang singga-sana!  Ini memang zaman yang marak dikotomi. Kecakapan intelektual sering terbaur dan melebur di berbagai arena keramaian yang dibanjiri kaum peretas Gagasan, ide, dan mereka yang bertemu dalam rangka mempresentasikan hasil bacaan, seperti di kedai kopi, pojok warung, dan di atas lantai fasilitas Negara. Orang-orang itu mulai menjalar tindakan atas keinginannya, hingga pola-pikir mereka sesekali “disandang” dapat “merantas” zaman. Kecakapan intelektual bukan lagi sesuatu yang “asing”, selaku pemakai Almamater dan manusia yang diberi tanda identitas kartu mahasiswa menjadikan dirinya sebagai “piranti” dalam menjawab berbagai tantangan sosial maupun yang telah meng-global. Selaras dengan perjalanan sejarahnya, kumpulan intelektual ini kemudian memiliki ide untu...