Intelektual Lalu Lalang
Lalu-lalang:
Lemahnya konsistensi belajar sebagai gerbang pendobrak?
Seolah ini zaman paceklik,
Kita juga lari
Kau, pada mulamu adalah kewajaran
Yang singga-sana!
Ini memang zaman yang marak dikotomi. Kecakapan intelektual sering terbaur dan melebur di berbagai arena keramaian yang dibanjiri kaum peretas Gagasan, ide, dan mereka yang bertemu dalam rangka mempresentasikan hasil bacaan, seperti di kedai kopi, pojok warung, dan di atas lantai fasilitas Negara. Orang-orang itu mulai menjalar tindakan atas keinginannya, hingga pola-pikir mereka sesekali “disandang” dapat “merantas” zaman. Kecakapan intelektual bukan lagi sesuatu yang “asing”, selaku pemakai Almamater dan manusia yang diberi tanda identitas kartu mahasiswa menjadikan dirinya sebagai “piranti” dalam menjawab berbagai tantangan sosial maupun yang telah meng-global. Selaras dengan perjalanan sejarahnya, kumpulan intelektual ini kemudian memiliki ide untuk membentuk berbagai kelompok yang tidak perlu ditihitung jumlahnya disini. Serangkaian gagasan dan pikiran yang tajam, serta kemampuan emosional dan nalar yang berdisiplin, menjadikan para intelek ini memiliki banyak resiko berpikir yang harus teraktualisasi, meskipun kadang menghadapi “kegamblangan”.
Lain dari yang lain, aliansi atau kelompok ini justru memiliki tekad yang “membahana”. Seperti ungkapan Soe Hok Gie, “kita adalah generasi mudah yang memiliki tugas untuk memberantas generasi tua yang korup”. Namun, misalnya dinamika hidup yang lain: perjuangan yang mereka geluti sebagai profesi intelektual kadang mengahadapi “jalan buntu”. Lalu apakah kita akan menyangkal dan menerima bahwa ini adalah resiko sebuah ke-idealismean? Atau pengucilan sang “pahlawan” yang dilupakan? Pertanyaan-pertanyaan demikian begitu lumrah dihadapi oleh mereka yang sangat tidak menginginkan resiko di balik jalan buntu itu. Tentunya, ada instrument yang menjadi “penangkal” sehingga mereka disandang sebagai intelektual dalam pengertian mereka sering diartikan sebagai orang terpelajar. Dimana-mana segi intelektual sangat dibutuhkan dalam berbagai profesi—yang memiliki kompetensi dan keahlian. Tapi rujukan tulisan ini hanya membidik para intelektual yang ber-almamater kampus. Seperti halnya apa yang diamati oleh Jurgen Habermas, bahwa kecenderungan lanskap pikir kaum intelektual sekarang ditonjolkan pada wacana yang ber-label ‘kemajuan’. Misalnya, saat kita minum kopi di kantin sebelah kampus, dinamika yang mencuat serta pemvokalan dialog oleh mahasiswa jarang ditemui wacana tentang persiapan rumah tangga, atau keinginan berumah-tangga pasca menyandang predikat sarjana yang pada mulanya menjadi resiko berpikir semua mahasiswa. Ini memang tidaklah sesuatu yang berupa ke-absurditasan, melainkan tradisi intelektual yang hangat, bagai kopi-kopi yang dihidangkan itu.
Pada dasarnya, dinamika mahasiswa masih gencat membangun isu-isu murahan bila ia sendiri mengakui keterbatasan wacana yang hanya akan mati dan pasif di kedai kopi. Begitulah kiranya, kemampuan para intelek dalam menyibak realitas ternyata menghadapi “kejemuhan” apabila ia sendiri mengakuinya bahwa tak ada tindak-lanjut dan realisasi. Jadinyan, predikat tadi bisa berakhir atau pergi dengan kata “lalu-lalang”. Pretensi ini juga didukung atau dapat dilihat berdasarkan hasil pembelajaran yang minim “konsistensi”—serapan pemahaman dari instrumen pengetahuan yang “ngambang”, dan berbagai sub-sub disiplin yang hanya diringkas, serta penyampaian hasil bacaan yang hanya terbiasa dengan tradisi mendengar kemudian melakukan “kamuflase”, ini juga soal yang fatal! karena kalangan intelek sendiri juga telah merasakan akibatnya—pembohongan “transformasi” pengetahuan yang “bereinkarnasi”. Pendek kata, ini juga “manis” dibincangkan kembali oleh para intelektual.
Garis goresan ini merupakan refleksi atas pengamatan realitas dan dinamika kampus yang marak akan kalangan cendikiawan, atau siapa saja yang menyandang predikat intelektual. Sebagai kaum yang dikarantina untuk melatih eksistensi belajar, kita mestinya menjaga ikhtiar itu pada tatanan yang lebih matang. Sebagaimana dewasa ini nuansa kecendikiaan telah menghadapi berbagai gejala keseimbangan politik dunia yang meng-global serta lajunya tatanan mobilitas kehidupan kapitalisme di paru abad kontemporer ini haruslah menjadi diskursus tersendiri, dan bukan lagi wacana ‘kemajuan’ yang disentil oleh Jurgen Habermas akan tradisi intelektual di kedai kopi, tapi kita patut menggubah itu dalam gerak pikiran yang lebih besar lagi, yakni melawan segala pengaruh yang merasuk diberbagai sektor kehidupan. Kecemasan intelektual kita bukan saja dimatikan di pojok warung dan tenggelam bersama ampas kopi di dasar Gelas, atau dimatikan bersama punting tabako, melainkan akan “menyalak” apabila amarah dan dendam intelektual akan “berkoar”. Dendam intelektual bukanlah dendam secara manusiawi, justru merupakan anti dari pelajaran yang tidak diajarkan. Dan juga sebagai tantanga akuntabilitas yang telah diembankan kepada seorang intelek yang cemerlang.
Kita telah banyak bercerita apa-adanya. Telah mengungkapkan “aib” para intelektual, atau siapa saja. Oleh karena tekad dan kompleksitas pikiran ini kita bisa mengennyam kehidupan yang berdinamika—setidaknya kita mengerti makna hidup dan menjalaninya dengan penuh hati-hati. Rasa was-was, atau nerveus berintelektual adalah rasa yang sangat wajar. Aktivitas intelektual bukan saja dialami pada dimensi manusia yang fana ini, tapi juga sebagai “piranti” para Setan untuk melaksanakan tugasnya mengelabui manusia dari nafsu kebaikannya. Cerdik dan halus permainan setan akan intelektualnya itu. Bila kita sematkan makna setan yang berintelektual itu, maka ada kemungkinan manusia juga memperalat daya keintelektualnya untuk memicu konflik. Pendeknya, manusia juga selalu saja menggunakan kecerdasannya dalam memainkan segala kepentingan yang mencederai lawan, maupun musuh, selebihnya saudara sendiri. Atau pada tingkatan yang lebih besar, intelektualnya digunakan sebagai daya “penyamaran” untuk melakukan ketidak-adilan yang berskala sosial. Maka demikian, inilah kehebatan intelektual kekinian.
Komentar