Amarah Lampu Merah - Cerpen




Amarah Lampu Merah
Cerpen: Rian Hidayat Husni

Kembali Melankoli Batas-batas prasangka. Setan pun tak mampu menerobosnya. Dulu, kami tenggelam dalam gerhana cinta yang mengubah siklus hidup  menjadi satu, Cuaca serasa menyatu, iya, semuanya pada Bingkai satu Gambar Love. Tapi sesaat, bahkan dia tak mengingatku selintas-persen pun dalam termanya. Kenapa?
Begitulah Sikapku dalam khayalan, dan realitasnya Aku sedang menunggu Angkot, Mau pulang. Halte Bus di kampus adalah tempat terbaik melihat wajah Wanita-wanita gemilang yang lelah berada di Ruang belajar. Mereka sungguh Berjihad dalam Pendidikan. Satu-satu wajah dan tubuh mereka melewati batas pintu Angkot dan bersandar. Manis yang melelahkan. Seandainya ada kekuatan Magic, mereka mungkin Menarik Rumah dan sekejap hilang berada di kamar tidur. Para Kusir memecah jalan dan lingkungan kampus dengan suara Eksposisi "Cewek, Nyong, Angkot-angkot..!" Dan melambaikan tangan. Persis tentara Belanda yang mengamankan warganya terhindar dari serangan senjata. Aku belum ada niat untuk naik, begitu cermat kupandang satu Nuansa hidup ini.
"Belum pulang bung?" Kusir, Angkot, wanita gemilang, jalan, kampus, Ruang kelas, pohon-pohon, Semua nuansa tadi berakhir begitu saja saat kupalingkan pandangan ke wajah Arief yang bertanya. "Belum" balasku. "Khayalanmu jangan sampai menghabiskan waktu Bung, Tuh angkotnya tinggal satu, Angkot terakhir lagi" rupanya diriku tertidur, seperti kata Sigmound Freud: mimpi dalam Epistem baru adalah khayalan untuk menggapai sesuatu. Sampai-sampai pikiranku tidak di Badan. Untung Arief menegurku, "Iya, ayo Rif kita naik...!"
***
Deretan kursi yang tersambung. Orang-orang didalam Angkot itu menatap ke arahku. Tapi Aku tak menghiraukan tatapan itu sebagai tatapan musuh ataupun sahabat, melainkan karena keadaan mereka. Aku duduk disudut. Kugeser kaca jendela yang belum dibuka karena kepanasan. Volume teip mulai dikecilkan setelah Sopir memamerkan lagu barunya tadi. Kupapah Tas di pangkuan. Di dalam angkot rupanya kebanyakan penumpang adalah para Mahasiswa cantik. Aku dan Arief bertindak lelaki-laki tunggal. Arief yang duduk di Muka dekat sopir, sesering melirikku dan menertawaiku karena lelaki tunggal itu Aku yang di belakang. Bersama wanita-wanita gemilang ini. Tinggal menunggu dua orang penumpang dan kursi mobil ini akan penuh. Angkot ini berjalan dengan pelan sambil mengitari samping-samping jalan dengan penuh harapan adanya penumpang. Dan suara Bass Music kembali dikecilkan, Mobil ini berhenti, dua orang penumpang naik. Aku mengenal mereka, tapi hanya dengan dandanan. Iya, mereka juga mahasiswa.
Kurasa mataku tak kalah menatap kedatangan mereka didalam mobil ini. Dan hebatnya satu Perempuan yang kutatap itu juga sempat tak sengaja meringankan matanya ke arahku. Langsung kupalingkan pandanganku kearah kaca mobil. Sopir angkot pun langsung bergegas menancap Gas dan mobil ini berjalan polos tanpa ada rasa ragu dan khawatir tidak ada penumpang. Volume teip kembali dikencangkan. Kali ini adalah salah satu lagu vaforitku yang diputar, 'separuh aku' lagu dari band NOAH yang diciptakan ariel.  Igauan-igauan hatiku mulai menebar. Apalagi saat perjalanan ke Terminal banyak pemandangan yang indah disaksikan. Aku jadi Galau, Karena bayangan seorang wanita yang baru kuakhiri kisah cinta denganya sebulan lalu terlintas di bayangku, kemudian turun ke hati dan terasa sangat tak terbilang. Perempuan yang membalas tatapanku tadi menempatkan posisi duduknya dikursi mobil yang berada di dekat pintu. Ia menatap ke arah pintu, tentunya menatap keramaian di jalan dan melihat satu-persatu kendaraan yang berlewatan. Aku pastikan Ia bisa melirikku. Kuambil sebatang rokok yang tersisa di Saku Celana yang tampak loyo akibat bekas tempat dudukku yang mengganggu kenyamanan posisi rokok saat kutaru di kantong belakng. Lalu kuambil pasanganya, yakni pemantik api yang berada di Kantong muka kemeja. Dengan tindakan agak menghawatirkan Ritual pembakaran Rokok ini karena terganggu angin, kugerakkan tubuhku ke belakang dan menunduk menyembunyikan ritual pembakaran ini. Setelah selesai terbakar, sebelumnya aku yakin, akan mengganggu suasana dalam mobil karena kepulan asap yang kuhembuskan. Tapi tak apalah ini tindakan yang konyol, tapi punya manfaat. Buktinya, ia langsung menengok ke belakang karena telah menghirup udara asap yang keluar dari Rongga hidung dan mulutku. Dia Melirikku. Kutahu, dia pasti menjengkeli tindakan ini. Tapi, keadaan berubah saat Aku dan dia saling menatap. Jarum kasmaran telah menusuk mataku, alarm hati telah menandakan sesuatu yang begitu sensitiv mematri di dadaku. Keadaan apa ini? Masih dalam keadaan menatap, Apa yang terjadi? Alarm ini semakin kencang bergetar. Ini adalah tanda, lalu apa petandanya? Tatapan yang aneh, buatku tak bisa berkedip. Samping menatap, tak kalah ku kepulkan asap rokok, meski asapnya sesekali mengganggu tatapanku, tapi Aku tetap memandang gerhana mata yang mendung itu. "Aduh..." Sialan, percikan api dari rokok yang kuhisap mengenai mataku. Tatapan kami lentur dan berakhir begitu saja. Dia tersenyum kecil dibibirnya dan terbahak di hatinya (mungkin begitu). Air mataku menetes akibat gangguan tadi.
***
33 Mahasiswa dan pemuda berjejer di Lampu Merah itu. Durasi Waktu dan kesempatan kami Minggat di bawah Lampu Merah cukup lama, 30 Detik. 33 Mahasiswa dan Pemuda itu kata Tini perempuan di sebelahku ini, Mereka sudah 7 hari atau seminggu melakukan Aksi menurunkan Harga BBM. Pemerintah memang selayaknya di kedok oleh gertakan Corong. Agar ada kemungkinan dibukalah tirai kesejahteraan bagi Rakyat. 33 Mahasiswa dan Pemuda itu persis Tragedi Tambang di Chili 2010 lalu. Kedalaman 700 Meter dan proses Evakuasi 33 orang yang dalam seminggu tidak makan dan minum tapi mereka masih hidup, adalah benar-benar usaha perjuangan kehidupan yang dahsyat. Dan 20 Detik lampu merah memberi kesempatan. Kejadian di 20 detik ini adalah Tabrakan yang dilakukan seorang pengemudi sepeda Motor kepada seorang Nenek renta yang sedang melintas di jalur. Kami dalam keadaan menyaksikan. Tiba-tiba dari arah berlawanan dan di pertengahan 30 detik_15 Detik ini dua Truk besar pengangkut bahan Bangunan saling aduh fisik serta membaur dalam satu Tabrakan. Pecah, Retak, jeritan Manusia mengusik kuping hingga mengalahkan suara Knalpot Mesin. Tangisan dan Darah bertetesan seiring detik Lampu Merah yang tanpa hati dan sangat otomatis menjalankan fungsinya. Tentulah Musibah ini yang patut disalahkan adalah pelaku Pengemudi yang tidak mematuhi Aturan Rambu-Lalulintas, dan patut dibenarkan adalah semuanya adalah Takdir bertanda sebuah Musibah.
***
"Rian..!" Panggilan seseorang di tengah gemuru konflik ini begitu jelas kudengar. Dari Jalur sebelah Kiri sumbernya. Ternyata dialah Sang Kekasih khayalku tadi. Namun apalah. Satu detik telah hilang dan Lampu Kuning baru muncul dari kematiannya. Tak lama, Hijaulah Suasana jalan dan lampu lalulintas mengizinkan Kami menyeberangi jalan. Polos dan bening Matanya kekasihku itu. Meski dirinya hanya tampil Sedetik dalam tatapanku, Bagiku itu adalah segalanya.


***
"Bung, kita sudah sampai" Arief membangunkanku. Kali ini Aku benar-benar tidur. Aku mengingatnya: ternyata kecelakaan dan kekasih khayal tadi benar-benar terjadi dalam mimpiku. "Oh... Ternyata Hanya mimpi". Kusir angkot pun memperlihatkan Telapak tangannya, "ini..!" Kuberi harga Angkot dan keluar melewati batas pintu dan batas cerita ini.

Komentar