Baronda Halteng: Menanam Rindu di Pulau Sayafi
Dunia sedang menghadapi masa kerja yang sangat padat. Dengan alat bantu teknologi yang serba canggih, perkembangan zaman ini tentu bertujuan memudahkan manusia dan pekerjaannya. Tapi, jam kerja manusia, justru semakin padat. Waktu senggang untuk beristirahat, atau kesempatan menyambangi akhir pekan pun sangat sedikit. Di plaza kota, perkantoran, toko, juga semua tempat di mana kesibukan tampak mengapit kehidupan manusia, pemandangan semacam itu lazim kita saksikan. Pada kondisi inilah, Paul Lafargue berpendapat, keinginan manusia untuk berbondong-bondong mengunjungi pantai semakin menjadi-jadi.
Tak dapat dipungkiri. Pantai adalah destinasi wisata (seaside turism) paling eksotik untuk dikunjungi wisatawan. Bicara tentang pantai, rasa-rasanya kurang lengkap, jika tidak menyebut sejumlah destinasi pantai di negara-negara maju. Kita mungkin telah mendengar, atau menyaksikannya di media sosial, kegembiraan para wisatawan di Pantai Playa Paraiso di Cuba. Pantai Cayo de Agua, Los Rogues National Park di Venezuela. Atau juga, Pantai Zakynthos di Yunani. Serta masih banyak lagi destinasi pantai bertaraf internasional yang termasuk dalam daftar wisata pantai paling indah di dunia.
Kembali ke Indonesia. Destinasi wisata pantai yang kerap mengundang banyak pelancong (wisatawan) baik di level regional maupun mancanegara juga begitu banyak kita jumpai. Sebut saja, wisata Pantai Pasir Putih Karang Asem, Pantai Suluban, Kuta dan Pantai Padang-padang di Bali. Begitu juga di Jawa Tengah, yang terdapat Pantai Karimun Jawa. Namun, di belahan timur Indonesia, ada sebutan surga kecil yang belum tersentuh. Istilah ini merupakan penamaan tempat-tempat indah yang belum dikunjungi banyak orang. Sebutan surga kecil tersebut juga sangat marak kita dengarkan pada artikulasi masyarakat. Meski belum mendapat perhatian khusus, baik dari pemerintah maupun promosi media, kebanggaan atas pesona pantai itu menjadi ciri khas masyarakat. Terutama mereka yang hidup di daerah pesisir, untuk juga mengatakan ‘Torang pe pante lebe bagus’ (Pantai kami lebih bagus).
Berduyun-duyun ke Pulau Sayafi
Sebagai daerah yang terdapat banyak pulau, Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng) dianugerahi berbagai keindahan pantai dan lautan. Daerah dengan luas wilayah 2.653,76 km² ini dibentangi gugusan pulau-pulau indah dengan pemandangan yang tak kalah eksotik. Jika daerah lain di Indonesia telah memliki banyak destinasi wisata pantai, di Halteng, tepat di Kecamatan Patani Utara, surga kecil yang terhampar ke bumi itu bernama Pulau Sayafi. Pulau ini telah menjadi wisata lokal masyarakat. Berwisata dengan cara sendiri, mengikuti tradisi sendiri, dan menyediakan fasilitas wisata sesuai keinginan pengunjung, memang sudah lama diterapkan masyarakat Patani Utara saat hendak berduyun-duyun ke Pulau Sayafi.
Pengunjung akan menikmati pesona pantai dengan kudapan seadanya. Memugarkan jiwa mereka dan berdamai dengan alam pantai. Cara pengunjung berwisata pun sangat beragam. Menangkap, menjala, memanah dan memancing ikan di Pulau Sayafi menjadi satu keunikan sendiri dari banyaknya aktivitas turism yang terdapat di Indonesia. Tentu saja, cara menikmati objek wisata seperti ini, sangat sukar kita jumpai pada wisata pantai di daerah lain. Pulau Sayafi, selain menjadi pulau penghasil komoditi cengkeh dan kopra yang menopang ekonomi masyarakat, juga dikenal dengan pulau yang memiliki pesona pesisir pantai dengan pemandangan yang sangat membelalak mata kita. Bagi masyarakat, akhir pekan saat libur sekolah, atau melakukan rekreasi bersama keluarga tanpa menjejakkan kaki di pasir putih pulau ini, rasa-rasanya kurang berkesan.
Meski banyak menyimpan keindahan, pantai Pulau Sayafi sepertinya masih luput dari pengelolaan sektor wisata oleh Pemerintah Daerah. Akomodasi transportasi yang masih terbatas, serta biaya yang cukup besar, menjadi satu di antara banyaknya keluhan para pengunjung untuk dapat menikmati ikan segar di pulau tersebut. Jika ingin mandi di pasir putih Pulau Sayafi, pengunjung harus menyewa perahu dengan biaya yang cukup besar. Terlebih, penetapan tarif transportasi (biaya sewa) yang tidak menetap, seringkali menjadi polemik pengunjung karena dapat menguras isi kantong mereka.
Perjalanan menuju pulau ini kurang lebih ditempuh dengan waktu 40-60 menit (Satu Jam) dari Desa Tepeleo, Kecamatan Patani Utara, Kabupaten Halmahera Tengah. Sebagaimana adanya, sarana transportasi lokal yang mengantarkan para pelancong (wisatawan) ke Pulau Sayafi adalah transportasi laut, seperti jonson dan fiber (perahu dengan mesin tempel). Transportasi yang sudah modern ini dikelola oleh masyarakat secara pribadi (usaha sendiri). Jika dahulu masyarakat harus bersusah payah mendayung, berbeda dengan sekarang yang lebih modern dan canggih. Sebagai potensi objek pariwisata pantai yang harus dikembangkan, letak geografis dan karakteristik pulau ini dapat dikatakan sangat strategis karena mudah dijangkau oleh masyarakat dari berbagai daerah di Kabupaten Halmahera Tengah.
Rayuan Buah Kelapa dan Ikan Segar
Kawasan pesisir Pulau Sayafi memiliki potensi sumberdaya alam hayati yang tergolong cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat pada ekosistem terumbu karang, ikan karang, ikan hias, padang lamun dan perikanan. Selain memiliki fungsi ekologis, ekosistem tersebut juga memiliki nilai estetika yang tinggi untuk pengembangan wisata bahari (marine tourism). Dalam journal.ipb.ac.id, hasil penelitian sejumlah Mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Pasifik Indonesia Morotai, Maluku Utara, menunjukan kawasan pesisir Pulau Sayafi dan Liwo sangat layak untuk jenis kegiatan diving dengan daya tampung sebanyak 260 orang setiap hari dengan area pemanfaatan sebesar 18.07 ha. Sementara, untuk wisata snorkeling, dapat menampung 231 orang setiap hari dengan area pemanfaatan 16.01 ha. Kategori ini dinyatakan sangat sesuai (jurnal teknologi perikanan dan kelautan: journal.ipb.ac.id).
Data di atas adalah kabar gembira, bahwa kekayaan alam bahari Pulau Sayafi memang layak menjadi panorama yang dapat kita “selami” saat hendak “mengancuk” pantai pulau ini. Selain tersimpan pemandangan biota laut yang indah, pengunjung juga dapat menikmati santapan ikan segar. Pada umumnya, masyarakat Patani Utara memiliki tradisi yang unik untuk mendapatkan ikan. Tradisi ini melantun sesuai ragam bahasa yang dimiliki. Ragam sebutan untuk menamakan aktivitas laut itu, misalnya ‘fakilebes’ yang artinya ‘memanah ikan’. Cara mendapatkan ikan semacam ini dapat dilakukan secara perorangan dan bisa dilakukan secara kelompok. Biasanya, pemanah menggunakan senapan ikan dan kacamata selam. Selanjutnya, ‘pele lobong’ atau ‘menjaring ikan’. Kegiatan ini dilakukan banyak orang dengan cara membentangkan jaring dan merangkap ikan. Hasil tangkapan dari menjaring biasanya lebih banyak dibanding memanah ikan. Keunikan akivitas lainnya adalah melakukan kegiatan ‘farumut’ atau mencari kerang laut. Kegiatan ini dilakukan saat air laut sedang surut. Pencari kerang akan mengumpulkan berbagai jenis kerang laut yang dapat dimakan.
Tak cuma itu, sebagai pulau penghasil komoditi kopra, benar saja, buah kelapa pulau ini selalu menjadi minuman wajib bagi wisatawan. Apalagi, usai menyantap ikan segar dan melahap kudapan yang dihidangkan. Air kelapa muda yang manis, sangat mudah dipetik dari pohonnya. Diolah menjadi minuman penyegar dahaga. Sayangnya, belum terdapat pengelolaan ekonomi masyarakat lokal dalam bentuk aneka kuliner khas masyarakat yang bisa menjadi ciri khas daerah tersebut. Padahal, jika ditilik, fasilitas penunjang untuk pengembangan kawasan ekonomi lokal cukup memadai. Hal itu dapat dilihat dari ketersediaan pangan yang dimiliki pulau ini. Lagipula, Pulau Sayafi bukan sekadar menjadi tempat dengan panorama alam pantai yang memiliki daya tarik, lebih dari itu, masyarakat kerap menyebutnya sebagai tempat untuk menyehatkan badan, dengan menyantap segala “makanan alam” yang tersedia. Betapa tidak, saat hendak berduyun-duyun ke Sayafi, pengunjung memiliki hasrat untuk menunaikan keinginannya menikmati lauk berupa daging ikan, kerang laut, dan aneka kuliner laut (seefood) yang merupakan kekayaan pulau tersebut.
Menuju Wisata Nasional
Barangkali, eksotisme Pulau Sayafi akan tetap terjaga bila strategi pengelolaan kawasan pesisir pantainya dirawat berdasarkan kebudayaan (culture) yang telah lama tumbuh menjadi kebiasaan masyarakat. Tentu saja, basis pariwisata yang akan dikelola adalah kearifan lokal. Pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Pariwisata Halmahera Tengah, tentu memiliki strategi dan tatakelola yang telah dicanangkan. Juga tak dapat dinegasikan, Peraturan Menteri Pariwisata Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2018 Tentang Petunjuk Operasional Pengelolaan Dana dan Alokasi Khusus Bidang Parawisata, menjadi kabar baik untuk menghadirkan fasilitas wisata untuk “meriasi” pulau indah tersebut.
Seperti yang telah dijelaskan, fasilitas penunjang wisata Pantai Pulau Sayafi baik dari segi transportasi maupun pembangunan kawasan ekonomi lokal di lokasi wisata memang belum diadakan. Karena itu, kita berharap perancangan dan perencanaan tersebut dapat dan segera dikelola berdasarkan karakteristik pulau dan kearifan lokal yang tumbuh menjadi kekayaan budaya masyarakat setempat. Tradisi farumut, pele lobong, fakilebes dan lainnya akan tetap terjaga dan paling tidak, menjadi aktivitas para pelancong dari berbagai daerah di Indonesia untuk menikmati hari liburnya di Pulau Sayafi.
Selain pemerintah, peran pemuda dan masyarakat dalam mendorong pengembangan dan pembangunan pariwisata Pulau Sayafi sebagai kawasan wisata bertaraf nasional (bahkan internasional) sangat dibutuhkan. Pasalnya, beberapa objek wisata di Halmahera Tengah, seperti Gua Boki Moruru yang terdapat di Weda Utara, sedang dijadikan sebagai Geopark National yang bakal menghadirkan berbagai pengunjung (turis) dari berbagai daerah.
Itulah mengapa, Pulau Sayafi, bersama keindahannya, akan keluar dan menyaingi objek wisata lainnya. Tentu saja, hal tersebut, dapat didukung kreatifitas dan gagasan kaum muda untuk memadukan alam dan kearifan lokal menjadi sebuah pemandangan yang memiliki nilai estetika, menghibur dan memberi kegembiraan untuk pengunjung. Selain itu, kesediaan transportasi laut dengan mengoptimalkan penetapan biaya sewa, akan memudahkan pengunjung untuk berbondong-bondong ke pulau tersebut.
Pulau Sayafi adalah bentang alam yang memiliki karakteristik dengan keunikan tersendiri. Masyarakat Patani Utara, tepatnya di Desa Tepeleo, telah memberi afirmasi, bahwa Sayafi, adalah “Surga penyejuk hati” bagi siapa saja yang mendatanginya. Pulau yang berdekatan dengan Pulau Liwo ini, bagi masyarakat, telah menjamin masa depan dan kelangsungan hidupnya sejak dahulu. Mitologi dan cerita rakyat asal-muasal pulau ini secara inplisit masih subur dalam ruang tutur tradisi lisan masyarakat setempat. Hal ini, setidaknya menegaskan, bahwa kearifan lokal, tradisi memburu ikan, dan segala kegiatan yang hidup di atas hamparan bebatuan laut, mengabadikan dirinya pada pengetahuan lokal masyarakat. Tak cuma itu, wisata snookeling dan diving yang layak dikembangkan di kawasan pesisir pulau ini juga menjadi modal destinasi wisata yang akan menggandrungi berbagai wisatawan. Jelas sudah, karakteristik budaya dan cara menikmati wisata Pantai Pulau Sayafi yang demikian, akan menjadi strategi untuk memajukan (mendorong) kemajuan objek wisata yang bertaraf nasional.
Di samping itu, kreasi ekonomi lokal (kudapan khas masyarakat Patani Utara) yang kerap menjadi penyedap lidah bagi pengunjung, bakal menjadi menu kuliner yang siap melayani rasa lapar setiap wisatawan. Selanjutnya, kekayaan alam Pantai Pulau Sayafi sebagaimana masih luput dari tayangan media sosial. Oleh karena itu, di era serba digital ini, kita dapat berswafoto, atau memotret pemandangan, lalu mengunggahnya di media sosial, barangkali dapat mendukung promosi wisata yang telah dicanangkan oleh pemerintah. Bahwa Pulau Sayafi, berhak “menampar” wajah siapa saja yang menatapnya untuk beranjak dan segera mandi di pasir putih yang membentang luas.
Saat perahu yang dinaiki telah sandar ke pulau ini, pengunjung akan menjumpai hamparan pasir putih dan pemandangan terumbu karang di sepanjang pesisir pantai. Pasir putih yang halus membentang. Mengajak siapa saja untuk membuat jejak kaki. Atau, barangkali, menulis namanya di pasir. Lekas kemudian, pengunjung akan merebahkan badannya di bawa pohon yang rindang. Angin pembawa tidur segera menghampirinya. Masalah-masalah di kota, toko, dan kantor, segera beranjak hilang dan digantikan dengan suasana paling bahagia. Begitulah, bila hendak berduyun-duyun ke Pulau Sayafi untuk menikmati semuanya. Jika pulang dari pulau ini, siapa saja akan menanam rindu dan mengukir kenangan yang tak habis dicatat.
LAMPIRAN DATA DIRI
Rian Hidayat Husni, lahir di Tepeleo, Kecamatan Patani utara, 09 Mei 1997. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Khairun (Unkhair) Ternate. Pernah menjuarai Gerakan Literasi Nasional tingkat Mahasiswa di tahun 2017 dan mengikuti Sayembara Penulisan Cerpen tingkat Provinsi pada tahun 2015. Dapat dihubungi di nomor wa: 081386192249 email: rian.husni07@gmail.com.
Tak dapat dipungkiri. Pantai adalah destinasi wisata (seaside turism) paling eksotik untuk dikunjungi wisatawan. Bicara tentang pantai, rasa-rasanya kurang lengkap, jika tidak menyebut sejumlah destinasi pantai di negara-negara maju. Kita mungkin telah mendengar, atau menyaksikannya di media sosial, kegembiraan para wisatawan di Pantai Playa Paraiso di Cuba. Pantai Cayo de Agua, Los Rogues National Park di Venezuela. Atau juga, Pantai Zakynthos di Yunani. Serta masih banyak lagi destinasi pantai bertaraf internasional yang termasuk dalam daftar wisata pantai paling indah di dunia.
Kembali ke Indonesia. Destinasi wisata pantai yang kerap mengundang banyak pelancong (wisatawan) baik di level regional maupun mancanegara juga begitu banyak kita jumpai. Sebut saja, wisata Pantai Pasir Putih Karang Asem, Pantai Suluban, Kuta dan Pantai Padang-padang di Bali. Begitu juga di Jawa Tengah, yang terdapat Pantai Karimun Jawa. Namun, di belahan timur Indonesia, ada sebutan surga kecil yang belum tersentuh. Istilah ini merupakan penamaan tempat-tempat indah yang belum dikunjungi banyak orang. Sebutan surga kecil tersebut juga sangat marak kita dengarkan pada artikulasi masyarakat. Meski belum mendapat perhatian khusus, baik dari pemerintah maupun promosi media, kebanggaan atas pesona pantai itu menjadi ciri khas masyarakat. Terutama mereka yang hidup di daerah pesisir, untuk juga mengatakan ‘Torang pe pante lebe bagus’ (Pantai kami lebih bagus).
Berduyun-duyun ke Pulau Sayafi
Sebagai daerah yang terdapat banyak pulau, Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng) dianugerahi berbagai keindahan pantai dan lautan. Daerah dengan luas wilayah 2.653,76 km² ini dibentangi gugusan pulau-pulau indah dengan pemandangan yang tak kalah eksotik. Jika daerah lain di Indonesia telah memliki banyak destinasi wisata pantai, di Halteng, tepat di Kecamatan Patani Utara, surga kecil yang terhampar ke bumi itu bernama Pulau Sayafi. Pulau ini telah menjadi wisata lokal masyarakat. Berwisata dengan cara sendiri, mengikuti tradisi sendiri, dan menyediakan fasilitas wisata sesuai keinginan pengunjung, memang sudah lama diterapkan masyarakat Patani Utara saat hendak berduyun-duyun ke Pulau Sayafi.
Pengunjung akan menikmati pesona pantai dengan kudapan seadanya. Memugarkan jiwa mereka dan berdamai dengan alam pantai. Cara pengunjung berwisata pun sangat beragam. Menangkap, menjala, memanah dan memancing ikan di Pulau Sayafi menjadi satu keunikan sendiri dari banyaknya aktivitas turism yang terdapat di Indonesia. Tentu saja, cara menikmati objek wisata seperti ini, sangat sukar kita jumpai pada wisata pantai di daerah lain. Pulau Sayafi, selain menjadi pulau penghasil komoditi cengkeh dan kopra yang menopang ekonomi masyarakat, juga dikenal dengan pulau yang memiliki pesona pesisir pantai dengan pemandangan yang sangat membelalak mata kita. Bagi masyarakat, akhir pekan saat libur sekolah, atau melakukan rekreasi bersama keluarga tanpa menjejakkan kaki di pasir putih pulau ini, rasa-rasanya kurang berkesan.
Meski banyak menyimpan keindahan, pantai Pulau Sayafi sepertinya masih luput dari pengelolaan sektor wisata oleh Pemerintah Daerah. Akomodasi transportasi yang masih terbatas, serta biaya yang cukup besar, menjadi satu di antara banyaknya keluhan para pengunjung untuk dapat menikmati ikan segar di pulau tersebut. Jika ingin mandi di pasir putih Pulau Sayafi, pengunjung harus menyewa perahu dengan biaya yang cukup besar. Terlebih, penetapan tarif transportasi (biaya sewa) yang tidak menetap, seringkali menjadi polemik pengunjung karena dapat menguras isi kantong mereka.
Perjalanan menuju pulau ini kurang lebih ditempuh dengan waktu 40-60 menit (Satu Jam) dari Desa Tepeleo, Kecamatan Patani Utara, Kabupaten Halmahera Tengah. Sebagaimana adanya, sarana transportasi lokal yang mengantarkan para pelancong (wisatawan) ke Pulau Sayafi adalah transportasi laut, seperti jonson dan fiber (perahu dengan mesin tempel). Transportasi yang sudah modern ini dikelola oleh masyarakat secara pribadi (usaha sendiri). Jika dahulu masyarakat harus bersusah payah mendayung, berbeda dengan sekarang yang lebih modern dan canggih. Sebagai potensi objek pariwisata pantai yang harus dikembangkan, letak geografis dan karakteristik pulau ini dapat dikatakan sangat strategis karena mudah dijangkau oleh masyarakat dari berbagai daerah di Kabupaten Halmahera Tengah.
Rayuan Buah Kelapa dan Ikan Segar
Kawasan pesisir Pulau Sayafi memiliki potensi sumberdaya alam hayati yang tergolong cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat pada ekosistem terumbu karang, ikan karang, ikan hias, padang lamun dan perikanan. Selain memiliki fungsi ekologis, ekosistem tersebut juga memiliki nilai estetika yang tinggi untuk pengembangan wisata bahari (marine tourism). Dalam journal.ipb.ac.id, hasil penelitian sejumlah Mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Pasifik Indonesia Morotai, Maluku Utara, menunjukan kawasan pesisir Pulau Sayafi dan Liwo sangat layak untuk jenis kegiatan diving dengan daya tampung sebanyak 260 orang setiap hari dengan area pemanfaatan sebesar 18.07 ha. Sementara, untuk wisata snorkeling, dapat menampung 231 orang setiap hari dengan area pemanfaatan 16.01 ha. Kategori ini dinyatakan sangat sesuai (jurnal teknologi perikanan dan kelautan: journal.ipb.ac.id).
Data di atas adalah kabar gembira, bahwa kekayaan alam bahari Pulau Sayafi memang layak menjadi panorama yang dapat kita “selami” saat hendak “mengancuk” pantai pulau ini. Selain tersimpan pemandangan biota laut yang indah, pengunjung juga dapat menikmati santapan ikan segar. Pada umumnya, masyarakat Patani Utara memiliki tradisi yang unik untuk mendapatkan ikan. Tradisi ini melantun sesuai ragam bahasa yang dimiliki. Ragam sebutan untuk menamakan aktivitas laut itu, misalnya ‘fakilebes’ yang artinya ‘memanah ikan’. Cara mendapatkan ikan semacam ini dapat dilakukan secara perorangan dan bisa dilakukan secara kelompok. Biasanya, pemanah menggunakan senapan ikan dan kacamata selam. Selanjutnya, ‘pele lobong’ atau ‘menjaring ikan’. Kegiatan ini dilakukan banyak orang dengan cara membentangkan jaring dan merangkap ikan. Hasil tangkapan dari menjaring biasanya lebih banyak dibanding memanah ikan. Keunikan akivitas lainnya adalah melakukan kegiatan ‘farumut’ atau mencari kerang laut. Kegiatan ini dilakukan saat air laut sedang surut. Pencari kerang akan mengumpulkan berbagai jenis kerang laut yang dapat dimakan.
Tak cuma itu, sebagai pulau penghasil komoditi kopra, benar saja, buah kelapa pulau ini selalu menjadi minuman wajib bagi wisatawan. Apalagi, usai menyantap ikan segar dan melahap kudapan yang dihidangkan. Air kelapa muda yang manis, sangat mudah dipetik dari pohonnya. Diolah menjadi minuman penyegar dahaga. Sayangnya, belum terdapat pengelolaan ekonomi masyarakat lokal dalam bentuk aneka kuliner khas masyarakat yang bisa menjadi ciri khas daerah tersebut. Padahal, jika ditilik, fasilitas penunjang untuk pengembangan kawasan ekonomi lokal cukup memadai. Hal itu dapat dilihat dari ketersediaan pangan yang dimiliki pulau ini. Lagipula, Pulau Sayafi bukan sekadar menjadi tempat dengan panorama alam pantai yang memiliki daya tarik, lebih dari itu, masyarakat kerap menyebutnya sebagai tempat untuk menyehatkan badan, dengan menyantap segala “makanan alam” yang tersedia. Betapa tidak, saat hendak berduyun-duyun ke Sayafi, pengunjung memiliki hasrat untuk menunaikan keinginannya menikmati lauk berupa daging ikan, kerang laut, dan aneka kuliner laut (seefood) yang merupakan kekayaan pulau tersebut.
Menuju Wisata Nasional
Barangkali, eksotisme Pulau Sayafi akan tetap terjaga bila strategi pengelolaan kawasan pesisir pantainya dirawat berdasarkan kebudayaan (culture) yang telah lama tumbuh menjadi kebiasaan masyarakat. Tentu saja, basis pariwisata yang akan dikelola adalah kearifan lokal. Pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Pariwisata Halmahera Tengah, tentu memiliki strategi dan tatakelola yang telah dicanangkan. Juga tak dapat dinegasikan, Peraturan Menteri Pariwisata Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2018 Tentang Petunjuk Operasional Pengelolaan Dana dan Alokasi Khusus Bidang Parawisata, menjadi kabar baik untuk menghadirkan fasilitas wisata untuk “meriasi” pulau indah tersebut.
Seperti yang telah dijelaskan, fasilitas penunjang wisata Pantai Pulau Sayafi baik dari segi transportasi maupun pembangunan kawasan ekonomi lokal di lokasi wisata memang belum diadakan. Karena itu, kita berharap perancangan dan perencanaan tersebut dapat dan segera dikelola berdasarkan karakteristik pulau dan kearifan lokal yang tumbuh menjadi kekayaan budaya masyarakat setempat. Tradisi farumut, pele lobong, fakilebes dan lainnya akan tetap terjaga dan paling tidak, menjadi aktivitas para pelancong dari berbagai daerah di Indonesia untuk menikmati hari liburnya di Pulau Sayafi.
Selain pemerintah, peran pemuda dan masyarakat dalam mendorong pengembangan dan pembangunan pariwisata Pulau Sayafi sebagai kawasan wisata bertaraf nasional (bahkan internasional) sangat dibutuhkan. Pasalnya, beberapa objek wisata di Halmahera Tengah, seperti Gua Boki Moruru yang terdapat di Weda Utara, sedang dijadikan sebagai Geopark National yang bakal menghadirkan berbagai pengunjung (turis) dari berbagai daerah.
Itulah mengapa, Pulau Sayafi, bersama keindahannya, akan keluar dan menyaingi objek wisata lainnya. Tentu saja, hal tersebut, dapat didukung kreatifitas dan gagasan kaum muda untuk memadukan alam dan kearifan lokal menjadi sebuah pemandangan yang memiliki nilai estetika, menghibur dan memberi kegembiraan untuk pengunjung. Selain itu, kesediaan transportasi laut dengan mengoptimalkan penetapan biaya sewa, akan memudahkan pengunjung untuk berbondong-bondong ke pulau tersebut.
Pulau Sayafi adalah bentang alam yang memiliki karakteristik dengan keunikan tersendiri. Masyarakat Patani Utara, tepatnya di Desa Tepeleo, telah memberi afirmasi, bahwa Sayafi, adalah “Surga penyejuk hati” bagi siapa saja yang mendatanginya. Pulau yang berdekatan dengan Pulau Liwo ini, bagi masyarakat, telah menjamin masa depan dan kelangsungan hidupnya sejak dahulu. Mitologi dan cerita rakyat asal-muasal pulau ini secara inplisit masih subur dalam ruang tutur tradisi lisan masyarakat setempat. Hal ini, setidaknya menegaskan, bahwa kearifan lokal, tradisi memburu ikan, dan segala kegiatan yang hidup di atas hamparan bebatuan laut, mengabadikan dirinya pada pengetahuan lokal masyarakat. Tak cuma itu, wisata snookeling dan diving yang layak dikembangkan di kawasan pesisir pulau ini juga menjadi modal destinasi wisata yang akan menggandrungi berbagai wisatawan. Jelas sudah, karakteristik budaya dan cara menikmati wisata Pantai Pulau Sayafi yang demikian, akan menjadi strategi untuk memajukan (mendorong) kemajuan objek wisata yang bertaraf nasional.
Di samping itu, kreasi ekonomi lokal (kudapan khas masyarakat Patani Utara) yang kerap menjadi penyedap lidah bagi pengunjung, bakal menjadi menu kuliner yang siap melayani rasa lapar setiap wisatawan. Selanjutnya, kekayaan alam Pantai Pulau Sayafi sebagaimana masih luput dari tayangan media sosial. Oleh karena itu, di era serba digital ini, kita dapat berswafoto, atau memotret pemandangan, lalu mengunggahnya di media sosial, barangkali dapat mendukung promosi wisata yang telah dicanangkan oleh pemerintah. Bahwa Pulau Sayafi, berhak “menampar” wajah siapa saja yang menatapnya untuk beranjak dan segera mandi di pasir putih yang membentang luas.
Saat perahu yang dinaiki telah sandar ke pulau ini, pengunjung akan menjumpai hamparan pasir putih dan pemandangan terumbu karang di sepanjang pesisir pantai. Pasir putih yang halus membentang. Mengajak siapa saja untuk membuat jejak kaki. Atau, barangkali, menulis namanya di pasir. Lekas kemudian, pengunjung akan merebahkan badannya di bawa pohon yang rindang. Angin pembawa tidur segera menghampirinya. Masalah-masalah di kota, toko, dan kantor, segera beranjak hilang dan digantikan dengan suasana paling bahagia. Begitulah, bila hendak berduyun-duyun ke Pulau Sayafi untuk menikmati semuanya. Jika pulang dari pulau ini, siapa saja akan menanam rindu dan mengukir kenangan yang tak habis dicatat.
LAMPIRAN DATA DIRI
Rian Hidayat Husni, lahir di Tepeleo, Kecamatan Patani utara, 09 Mei 1997. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Khairun (Unkhair) Ternate. Pernah menjuarai Gerakan Literasi Nasional tingkat Mahasiswa di tahun 2017 dan mengikuti Sayembara Penulisan Cerpen tingkat Provinsi pada tahun 2015. Dapat dihubungi di nomor wa: 081386192249 email: rian.husni07@gmail.com.

Komentar