Kemajuan Yang Dikeruhkan



Era yang Maju dan Keruh

Oleh Rian Hidayat Husni

Paling tidak saya harus mengakui: Saya adalah anak yang "di sejatikan" untuk zaman yang "marak" ini. Ketika segala bentuk perjuangan telah di dukung sepenuhnya oleh "Globalisasi" dan "Ekonomisasi" apalagi "Politisasi" Maka saya harus melepaskan "kesejatian" itu sejauh mungkin.

Dimensi abad 21 telah diciptakan, tanpa dipaksakan dia harus hadir. Di sekolah-sekolah kita dapatkan model pembelajaran yang sangat Progresif. lintas kerja sama segi-tiga antara pemilik modal, Ilmuwan, dan pihak indusrti juga tak kalah mengibarkan benderanya. Perguruan Tinggi disini juga bersaing membobol "pengetahuan" dan mencetak para Sarjana yang Berkualitas. Di America, Pabrik Texas yang memproduksi Nuklir semakin banyak amunisi perangnya. Sedang Islam dan para Ulamanya juga tak henti mencari tahu Titik-titik akhir Al-quran. Mahasiswa dan kekuatannya, Rakyat dan Orang-orang yang mewakilinya. Kehidupan kapitalisme kontemporer semakin mulia menginginkan Akumulasi. Sastrawan lepas, Sastrwan Cyber, Nasional, dan Lokal, selalu bermunajat pada kata-kata pilihan yang akan membawa berita kepenyairan. Media Massa, Online, Cetak, dan Eletronik menampilkan kehebatan para Wali Tuhan di muka bumi (berita dan informasi Global). Semua potensi Alam dan Manusia tak tertandingi bahkan dikira Ajaib di era milenium ke-tiga ini. Berbagai Tranformasi Global telah Menjalar di berbagai Negara.

Sejatinya: dalam pelbagai kemjuan itu, tak ada kesadaran Akuntabilitas yang begitu serius memperhatian Dampak kemajuan tersebut. David C Korten  memberi sentuhan pedas atas ketidaksadaran Manusia dengan lingkungan hidupnya yang semakin terganggu: Sebelum Tahun 1980-an masalah estetika dan ketidaknyamanan yang disebabkan oleh polusi udara dan air merupakan indikasi yang paling jelas adanya krisis lingkungan hidup. Bukan saja lingkungan hidup, meningkatnya Tekanan penduduk juga semakin gawat. Pada tahun 1987 penduduk dunia melampaui batas 5 miliar. Dengan tingkat kelahiran seperti sekarang jumlah itu akan menjadi dua kalinya dalam jangka waktu 40 tahun. Pada bagian kedua tahun 1980-an, laju pertambahan penduduk mencapai 82 juta per-tahun. Pada bagian kedua tahun 1990-an diperkirakan naik menjadi 91 juta per-tahun. Diperkirakan penduduk dunia akan bertambah 876 juta orang selama Dekade berikutnya: orang sebanyak ini cukup untuk memadati India baru tambah Ethiopia baru dengan luas wilayah seperti sekarang. Pertumbuhan ini akan terpusat di negara-negara yang paling miskin dan yang lingkungan hidupnya paling buruk, negara-negara yang justru paling tidak mempunyai harapan untuk bisa menampung penduduk yang begitu besar (Menuju Abad ke-21 hlm: 42-44)

 Tak hanya itu, Bencana alam yang di kategorikan sebagai bencana internasional terjadi dimana-mana. Lihat peristiwa Tambang di chile 2010 lalu. Untungnya peristiwa itu berhasil di evakuasi oleh pihak terkait. Begitupun ramalan "pemanasan Global" semakin terbukti keilmiaannya. Berbagai ragam kemajuan dan kesengsaraan menjilati setiap fenomena Alam dan manusia. Sehingga ke-ikhtiaran kita pada perasaan yang akan menjadi Bumerang selalu terganggu dengan sikap eksploitasi dan premis-premisnya. Dengan demikian, manusia akan dipertanyakan kondisi hidupnya.
Alam yang rindang ini. Kesejukan di sore hari, dan udara segar di gunung Kie Matubu pulau Tidore, akan terganggu kondisinya: sifat alamia bumi ini mungkin hilang, dan seakan-akan kesadaran kiamat akan membuka kedok bagiannya. Tentulah lazim Agama sebagai tali pengikatnya kalau kesalahan dan dosa sudah membuka Tirainya. Sisi ini, sifat Daur ulang menjadi dorongan dasar akan kesinambungan kelangsungan hidup manusia bereinkarnasi. Lihat saja pelajaran dari Tibet: penduduk Desa Sher yang melindungi lingkungannya dengan mendaur ulang kembali bahan mentah dari alam. Meski di Tebing, kehidupan mereka sangat sejahtera. Juga kesadaran dan ke-ikhtiaran ini harus diselipkan pada rana pembelajaran yang mutakhir. Lembaga-lembaga pendidikan yang mencintai alam dan merawatnya (semacam harus ada Literasi Ekologis). Dengan halnya kemajuan, penannggulangan pun mesti di agendakan. Jika tidak, kekeruhan akan terjadi, akan sama ketika kita merasakan campuran antara air dan batu_ sekali indera penyedap ditempelkan kekeruhan, tidakka muka kita pucat ingin "muntah"? Perasaan, apalagi tubuh kita seakan-akan "menolak" jenis "mineral" itu.
Memang bukan main kemajuan sekarang. Transformasi global menjerumuskan manusia pada makna "positif-negativ". Sehingga satu-persatu perut bumi akan dilahap Bahkan di Eksploitasi oleh bajingan-bajingan Kapitalis yang kontradiksi sekarang.

Pada tahun 2009 silam, para Ilmuwan Dunia kaget ketika alat yang diberi nama L-CROS terbang dan meluncur ke bulan. Alat itu siap meledakkan dirinya di bulan, dan sekitar 100-m jarak ledakan tersebut. Tujuan para Ilmuwan adalah ingin mencari tahu sesi-sesi kehidupan di bulan: akibat ledakan itu, di bulan ternyata ada air. Kemudian para Ilmuwan beranggapan bahwa: dengan miliaran tahun ke depan, Manusia akan hidup di bulan. Penelitian lain menyebutkan: tenaga pembangkit listrik (Helium 3) adalah bahan mentah yang keberadaannya sudah langkah di isi perut Bumi, dan satu-satunya cara untuk mengambilnya ialah dengan Balon terbang luar angkasa untuk mengambil Helium 3 di benda-benda luar angkasa. 
Dari fenomena tersebut: dapat kita sangkali, bahwa sesi-sesi kehidupan di bumi mulai hilang akibat penggalian bahan mentah yang sangat marak. Munculnya industri-industri dengan senjata alat beratnya mampuh bahkan mungkin sanggup melubangkan perut bumi. Pertanyannya dimana kita akan tinggal jika bumi yang kita pijaki tak sanggup lagi dengan tindakan seperti Setan (rakus-memeras) yang kita buat? Lalu apakah kita akan mengupayakan agar kita bisa hidup di Bulan? Entah, karena miliaran tahun kedepan adalah jangka yang amat terasa lama.

Komentar