Memegang Corong dan Beryanyi



                                                                                                                        Sabtu, 4 Februari 2017
                                     Memegang Corong dan Menyanyi:Itu juga kebahagiaan

pikiran sederhana orang biasa

Oleh Rian Hidayat Husni

Seorang Muadzin di Mesjid begitu seksi menyetel suaranya di Corong, mendendangkan panggilan hakikat Tuhan. Pengobral pakaian dan ibu-ibu di pasar Gamalama juga memvokalkan suara. Para Maestro dan Seniman anarkis melati adegan suara pasca Casting Teater. Dzikir panjang seorang ulama memberi sugesti kepada muslimin dan muslimat. Sepertinya Albert Camus dan eksistensialismenya juga tidak bungkam. Apalagi kawan-kawanku dari berbagai aliansi dan ormas-ormas terkini mempersiapkan propanganda yang akan di presentasikan−mimbar bebas lepas. Tidakkah kita mengira semua ini adalah kebahagiaan?

Inila yang dirasakan seorang Mahasiswa saat bibirnya menyentuh Pengeras suara. Dengan segenap niat dan kekhusuan dalam melantangkan sabda-sabda dari warisan Nabi−menjadikannya sebagai sarana mencapai kemerdekaan. Sisi lain mahasiswa juga dikenal “pemberontak”, seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, mereka adalah pemberontak sejati hingga saat ini  nafas kemerdekaan masih sejuk dirasakan.
Namun apakah suara seorang  Muadzin tidak mengganggu si Dungu yang sakit gigi? Suara Es Conelo tidak mengganggu si Herman yang haus dan tak punya uang? Para Kapitalis Borjuis yang mendengar teriakan “sosialis” berjubah Komunis? Tidakka Demonstrai-demonstrasi kemarin berakhir dengan Unjuk-rasa dan anarkis? Para politikus menghandalkan Jurkam-nya berteriak memangsa Manusia seperti suara Dajjal?

Ditengah-tengah kobaran suara kiri dan kanan ini, sang Dewi Fortuna menjulurkan rahasia jubahnya kepada kita, atau selintas cahaya yang diperlihatkan Tuhan kepada kaum Musa, begitu pula wajah yang berseri-seri saat melihat saat melihat wajah Tuhan di surga, serta kemenangan orang-orang yang membunuh keturunan Nabi di sungai Efrad.
Maka demikian, apabila mereka ambil sebuah pemahaman: bahwa yang mereka dengar− suara  Tuhan, suara kebenaran, suara Seni, kemenangan, apalagi suara Kebahagiaan. Maka tentulah, semua yang ada akan berbalik pada belokan “kebenaran” sejati.


Komentar