Memegang Corong dan Beryanyi
|
|
|
|
pikiran sederhana orang biasa
|
Seorang Muadzin di Mesjid begitu seksi
menyetel suaranya di Corong, mendendangkan panggilan hakikat Tuhan. Pengobral
pakaian dan ibu-ibu di pasar Gamalama juga memvokalkan suara. Para Maestro dan Seniman anarkis
melati adegan suara pasca Casting Teater. Dzikir panjang seorang ulama memberi sugesti kepada muslimin
dan muslimat. Sepertinya Albert Camus dan eksistensialismenya juga tidak
bungkam. Apalagi
kawan-kawanku dari berbagai aliansi dan ormas-ormas terkini mempersiapkan
propanganda yang akan di presentasikan−mimbar bebas lepas. Tidakkah kita
mengira semua ini adalah kebahagiaan?
Inila yang dirasakan
seorang Mahasiswa saat bibirnya menyentuh Pengeras suara. Dengan segenap niat
dan kekhusuan dalam melantangkan sabda-sabda dari warisan Nabi−menjadikannya
sebagai sarana mencapai kemerdekaan. Sisi lain mahasiswa juga dikenal
“pemberontak”, seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, mereka adalah
pemberontak sejati hingga saat ini nafas
kemerdekaan masih sejuk dirasakan.
Namun apakah suara
seorang Muadzin tidak mengganggu si
Dungu yang sakit gigi? Suara Es Conelo tidak mengganggu si Herman yang haus dan
tak punya uang? Para Kapitalis Borjuis yang mendengar teriakan “sosialis”
berjubah Komunis? Tidakka Demonstrai-demonstrasi kemarin berakhir dengan
Unjuk-rasa dan anarkis? Para politikus menghandalkan Jurkam-nya berteriak
memangsa Manusia seperti suara Dajjal?
Ditengah-tengah kobaran
suara kiri dan kanan ini, sang Dewi Fortuna menjulurkan rahasia jubahnya kepada
kita, atau selintas cahaya yang diperlihatkan Tuhan kepada kaum Musa, begitu
pula wajah yang berseri-seri saat melihat saat melihat wajah Tuhan di surga,
serta kemenangan orang-orang yang membunuh keturunan Nabi di sungai Efrad.
Maka demikian, apabila
mereka ambil sebuah pemahaman: bahwa yang mereka dengar− suara Tuhan, suara kebenaran, suara Seni,
kemenangan, apalagi suara Kebahagiaan. Maka tentulah, semua yang ada akan
berbalik pada belokan “kebenaran” sejati.
Komentar