Faizal Ikbal: MAHASISWA DAN GERAKAN ETNISITAS




MAHASISWA DAN GERAKAN ETNISITAS
Oleh : Faizal Ikbal
Pegiat Tabloid ACTA Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara

Ingatkah anda tentang cerita jalan Sutera yang banyak diceritakan dalam literatur sejarah filsafat islam, dan kedai-kedai minum yang menjadi cikal bakal lahirnya konsep ruang publik di abad pencerahan di Eropa yang diceritakan oleh Jurgen Habermas generasi kedua mazab Frankfurt dan juga sebagai pemikir yang berkonstribusi besar pada ilmu komunikasi. Dua wadah ini menjadi tempat bertemunya para pemikir-pemikir besar seperti Ibnu Sina yang kitabnya dipelajari oleh saudagar cina saat berlayar memasuki persia dan dokumentasi sejara menyebutkan kitab Ibnu sina dibawah ke cina dan dipelajari hingga kita mengenal peradaban cina dengan obat-obat verbalnya yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit. (baca : jurnal filsafat islam dan mistitisme Vol : 1 yang ditulis pengasuh madrasah Rausan Fikir yogyakarta). Jurgen Hebermas dalam buku Ruang publik mengidentifikasi akar sosiologis dan historis terbentukya apa yang saat ini kita kenal dengan Ruang Publik (Offentlicheit) akar-akar tersebut dia lacak jauh sampai ke sejarah Prancis di penghujung abad tengah saat para bangsawan dan tuan tanah serta para satria sudah mengadakan pertemuan –pertemuan yang jadi cikal bakal terbentukya Ruang Publik. Namun yang paling mengesankan dari kajian Habermas ini adalah ruang publik sesunguhnya terbentuk dari kedai-kedai minum di eropa. (baca : jurgen habermas ruang publik). Dari Dua ilustrasi kesejarahan diatas Maka penulis bersepakat bahwa Kampus adalah sebuah desain arsiktektur, bangunan mati yang menyimpan siswa-siswi yang bernobel maha, dari siswa berkonversi menjadi mahasiswa. yang siap merebut kunci gudang ilmu untuk lebih jauh membaca massa depan dunia. Menjadi mahasiswa memang tidaklah mudah, kita harus membagi waktu untuk tetap mengikuti proses belajar mengajar diruangan dan tetap mengcounter isu-isu hangat baik regional maupun nasional agar tetap responsif dan peka terhadap keadaan sekitar, sejatinya menjadi mahasiswa bukan selalu menghambakan diri pada nilai yang tertera pada kartu hasil studi (KHS) melainkan juga pembawa pencerahan dan perubahan social yang telah termatub dalam fungsi mahasiswa yang telah kita kenal jauh-jauh tempo. Dengan daya kreativitasnya dan haus pada pengetahuan maka selalu Membutuhkan sebuah wadah yang bisa Meningkatkan intelektual. Karena ilmu akademisi kampus hanya 20 % yang kita dapatkan tidak terlalu mencerdaskan menurut orang yang bergelut di dunia organisasi. organisasi adalah wadah untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekedar ilmu. (baca : memoir luka seorang mahasiswa. Novel by Muhammad Rizki Munawir). Dibawah Bendera organisasi memang mampu memberikan bangunan epistemologi yang sistematis. Sebuah wadah yang terus mengalir dialektika pengembangan intelektual yang didoktrin untuk tetap mengahayati nilai pergerakan yang berorientasi pada pengakuan kemerdekaan bagi segenap masyarakat yang bertumpah darah satu yaitu tumpah dara Indonesia. Mahasiswa menjadi patron pergerekan ditengah tumpulnya pemikiran para elit-elit politik borjuasi yang selalu mengamankan sejumlah kepentingan  picik. Maka mahasiswa menjadi solusi peradaban bangsa.  
        
     Belakangan ini muncul gerakan etnisitas yang viral diwacanakan. Gerakan etnis ini, masuk dan mewarnai politik kampus, Maluku utara sendiri terdiri dari beragam etnis diantaranya, Sanana, Tobelo, Galela, Morotai, Bacan, Weda, Patani, Maba, Ternate, Tidore, Jailolo, dan lainya. Sangat ketat dalam kontestasi politik dikampus, ketika menghembus isu suku maka semua yang merasa kesaaman suku akan turut memenangkan kontestan yang seragam suku, tanpa mempertimbangkan kemampuan presentasi dan prestasi.  Politik kampus tersebut baik, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), dan organisasi intra kampus lainya.  Tidak hanya sampai diareal kampus, bermunculan juga gerakan etnis memprosur ketimpangan social yang marak terjadi. Walau kita diikat dengan ideologi organisasi yang sama seperti, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND), PEMBEBASAN, Kesatuan Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Persatuan Mahasiswa Islam Indonesai (PMII). akan tetapi tidak mampu menahan lajunya angin gerakan etnis. Dengan arogansi kewilayaan yang sangat kejam, masing-masing menyoroti problem sosial dikabupaten/kota tersendiri, Dengan mengendarai organisasi yang dibentuk untuk mengikat mahasiswa sesuku dalam hal menyikapi realitas sosial yang direkayasa elit politik.

Walau angin demokratisasi telah dihembus, kebebasan berpendapat diakui khalayak namun format pergerakan mahasiswa masih kala didesain untuk menaklukan pemerintahan yang dictator. Menjadi pengetahuan bersama, etnis yang Beragam itu menjadikan Indonesia kuat dan unik di mata dunia. Bila direfleksikan, dengan kepeloporan mahasiswa selaku kaum muda terpelajar, semangat kebangsaan digelorakan dan mencapai puncaknya dengan munculnya kesadaran nasional pada diri mahasiswa. Mahasiswa berusaha menghindari semangat kesukubangsaan dan membangun semangat kebangsaan, yaitu ke-indonesiaan. Semangat itu dideklarasikan dalam sumpah pemuda 1928.(baca : suharno, identitas nasional dan identitas etnis) Dalam sejarah, momentum tersebut merupakan salah satu tonggak perjuangan yang semangatnya terus bertahan hingga proklamasi kemerdekaan. Selain gerakan mahasiswa 1928 ditutup performa pergerkan mahasiswa tahun 1998 biasa dalam sejarah dinamakan orde reformasi. untuk menentang pemerintahan yang tidak pro terhadap rakyat. Semangat mahasiswa yang berorientasi pada kesukuan mestinya melebur untuk membentuk gelombang massa yang dasyat agar berpengaruh terhadap kebijakan pemerintahan.  
 


Komentar

Unknown mengatakan…
bang? kamu itu hebat banget, kamu itu jenius ya, kaya habibi thu