Anak usia gembira: Abdi dan layang-layang
Menghadang Angin Malam Kamis
Cerpen
Rian Hidayat Husni
Jagad bumi dan kehidupan manusia bersemayam di atas angan-angan.
Layang-layang sore itu di terbangkan terlambat pergi dari malam. Abdi, boca usia gembira itu menerbang kannya seraya memandang langit, berharap tebalnya angin menjotoskan segala permukaan tanah hingga polusi bertebaran. Namun,
angin tak sampai datang, belum berhembus, belum ada. Seingat dirinya di dua bulan lalu ada dua ekor kucing dimatikan oleh teman-temannya saat mereka nakal-nakalkan dan menganiaya kucing betina dan jantan itu di Got depan rumahnya. Layang-layang barbingkis merah-putih kertas minyak itu loyo-loyo mau terbang. Dua bulan lalu bukan saja penganiayaan kucing oleh sahabatnya, ada juga peristiwa yang di beritakan ibunya “ada parampuan satu dia kase gugur ana, dia buang ana itu di tampa sampah” kurang-lebih begitu ingatan kata ibunya.
Apalah sekarang,
tebal hujan dan angin keras itu menghilang, padahal layang-layang buatannya baru selesai dibuat setelah hasil berguru pada pamannya. Berdirinya di
atastembok, di dekat pante.
“Abdi,
nanti kucing itu dia mati..!” tegur pamannya.
“tarada
om, kita mo kasemati pa dia supaya angin datang la kita bias kase nae layang-layangtra...!” Percaya diri sekali dirinya. Langsung dipukul dengan
batang kayu kucing seusianya itu, dan darah menetes di tembok tempatnya
menaikkan layang. Pamannya mengejarnya, namun kecerdikannya dalam berlari membuat pamannya yang sudah tua itu terngos-ngosan menarik napas. Segeralah dibuang kucing itu di pantai. Lalu
dirinya pulang.
Sore itu, seperti masih lumrah
terpaan angin. Layang-layang ditaru di atas lemari kamarnya. Lalu dibukalah
jendela kamar dua-duanya. Di pandang lagi ke atas langit "angin ka... Angin
ka...!" Dalam hatinya meminta Tuhan akan angin. Baginya kucing tadi
merupakan syarat dan kriteria bakal angin.
***
Yang berhembus dua bulan lalu
adalah angin kencang. Dan hari ini, sore menjelang malam kamis ini seperti
ingin menjadikan lingkungannya di selimuti angin. Abdi masih penasaran, betul
tidak kata orang tentang kucing dan peristiwa aborsi yang memicu angin itu.
Sebagai penangkalnya, dia telah berhasil membunuh seekor kucing tak berdosa.
Ngauman terakhir kucing itu benar-benar seperti menjelma diri Abdi adalah
Izrail si malaikat pencabut nyawa. Lepas sore, dirinya pun pergi ke musholah
dan sembahyang. Tak ada niat lain selain meminta angin, agar turun supaya
layang-layang buatannya bisa terbang. Seingatnya: sudah dua bulan dirinya
belajar layang-layang dari pamannya. Sehingga mau tidak mau, ritual apapun
harus dilakukannya.
"Bikiapa sampe
so malam bagini tarada angin lagi? Kita so bunuh kucing tadikong" Kopianya terangkat memangdang langit lagi. "Tuhan kase turun angin ka..!" Hatinya bicara. Dia mulai kritis berpikir saat itu. Bahwa ritual satu ekor kucing tidaklah menjamin Tuhan untuk meniup
angin dan menuruti kemauannya. Abdi pun jalan terus. Sekarang, dia adalah pemangsa kucing,
senjatanya sepotong kayu bakar yang keras dan mantap untuk sasaran kepala kucing. Akhirnya telah pas, Dua ekor kucing berhasil ditebas. Masing-masing kepala menjadi sasarannya. Gilirannya menunggu angin, kemudian besok,
insya Allah dia bisa menaikkan layang-layang.
***
“teng, teng, teng…” Denting
jam dinding rumah 12 kali berbunyi. Atap rumah
Abdi berbunyi bagai lemparan batu yang ramai. Kaget, kaget, keget dirinya,
Bangun. Kain pintu dan kain jendela bertebaran diatas ruang hampa rumahnya, Berubah bagai hantu
yang menakutkan, mencekam. “astaga..!angin kancang skali, berarti besok kita bias kasenae layang-layang ni”
kemudian dia membuka daun pintu. Rumahnya yang mendekat kelaut,
di swering itu membuat bagian rumah dan isinya mudah ditiup angin utara yang kencangitu. Segeralah dirinya berdiri
di tembok pantai tempatnya berlayang-layang tadi dan menghadang hembusan angin. Pori-pori kulitnya serasa terbuka lebar atas kecaman angin.
Bibirnya seketika berkatuk-katuk saling menindih.
Rambutnya yang bau keruh itu berubah aroma dari mana sumber tiupan itu.
Seraya melencangkan kedua lengannya dan berkata
“adoh… sadap e..!” bahagianya, syukur pun ditampilkan.
Sempat ada sikap dewasa yang ditampilkan Abdi “Subhanallah…” dia merasa
kesanggupannya merealisasikan tugas:
berusaha dan berdoa menjadi dalil dasarnya. “Abdi…! Ngana bikiapa
situ? Maso sudah nanti ngana maso angin kong...!”
ngauman ibunya memecah kebahagiaannya menghadang angin. Lalu merasa tersesalkan
dan melompat dari tembok kemudian masuk tertidur. Dibaringkan badannya yang
mungil itu di tempat tidur. Tentunya,
khayalan keindahan saat menaikkan layang-layang besok hari menjadi buah
tidurnya di tepat /2 malam itu.
***
Sebagian warga sibuk mencari. Corong masjid pun tak pernah berhenti memberitahu berita kehilangan.
Awan tebal raksasa menyelimuti kampungnya yang
damai. Bahwa akibat angin semalam, paman Abdi di tebas angin
kencang dan belum ditemukan saat tadi subuh ia mendorong perahu semang dan pergi memancing. Dan kini, redahan angin mulai menurun. “astaga..! tadi malam angin kacang
skali, ini pasti ada orang yang bikin
maksiat” berkatalah warga dan prasangka-prasangka pemicu angin tadi malam.

Komentar